Protected: 18 Juli 1996 – 18 Juli 2018

This content is password protected. To view it please enter your password below:

Advertisements

Romantisme Kehidupan :’)

Hidup adalah tentang beralih ke jalan yang berbeda. Mau tidak mau, kita harus menghadapi kenyataan yang ada didepanmu.

Kita tidak dapat menemukan jawaban yang benar setiap saat. Tapi ada seseorang yang mengatakan ini ” Jangan menyerah untuk terus bertanya tentang mengapa kita hidup dan apa tujuan kita hidup.”

Karena saat kita menyerah akan hal itu, romantisme dalam hidup kita berakhir.

Midnight Thought

Aku masih tidak tahu alasan aku harus tetap hidup. Jika aku pikir lagi, tak seorang pun di dunia ini pun tahu apa alasan mereka tetap hidup. Seseorang tetap hidup bukan karena dia tahu alasan untuk itu.

Hidup dipenuhi berbagai keterbatasan yang tidak dapat dihindari. Hal-hal yang tidak terduga terjadi, kesedihan tiba-tiba dapat menjadi kebahagiaan. Seperti itulah kehidupan.

Kadang aku kesulitan, namun kemudian aku berbahagia. Terkadang, aku berharap sendirian di pulau terpencil, namun kemudian ingin berada di tengah keramaian. Itulah ketidaksempurnaan.

Aku salah. Aku salah jika aku mendapatkan  jawaban yang salah kemudian ingin pergi dari dunia ini. Aku mematikan musik terbaik di bagian intro-nya. Aku berjalan melewati bunga-bunga yang indah di hari yang cerah. Aku yang bahkan tidak menyalakan lampu utama di kamar tidurku sehingga, aku hanya percaya hidupku dikelilingi oleh kegelapan. Itulah kesalahanku.

Semuanya bisa berubah. Segalanya bisa menjadi lebih baik. Jadi, aku memutuskan untuk tidak menyerah. Di dunia ini, aku tidak akan menyerah.

Sajak Pukul Tiga

Iit Sibarani | Akar Pikiran

image

Selalu ada satu waktu, di mana dadamu terlalu bergemuruh sedang kau tersesat di kepala. Menutup mata seakan tak ada lagi jalan, mematahkan usia di pekat langkah; sebab hujan di mata tak lagi mengenal napas. Yang hanya kau tahu ialah, kematian hanya sebatas jengkal.

Kau selalu merasa, bahwa duka hanya milikmu seorang, dan tak pernah berhak meski hanya sesesap tawa. Bahagia bagimu telah mati muda di hari yang sudah. Sebab, darah telah terpecah di nama Tuhan yang beda, dan rumah -yang kerap kau rindukan- tak pernah terasa pulang; sebab cinta yang melupa padam telah abadi dalam doa, terabaikan dalam langkah kepergian, dan tak mampu hidup di jiwa selain ia.

Mereka mencerca dan melepas, seakan perjalanan tak berharga dalam ingatan.
Bukan nominal yang kau perlukan, hanya sebatas genggaman untuk sebuah perjuangan; sebab kakimu tak pernah melayu untuk menyatukan apa yang sejatinya retak, namun kau hanya sebatas jelaga di tengah kota. Dekapmu tak…

View original post 104 more words

Kereta Tua

Iit Sibarani | Akar Pikiran

image

kita tak ubahnya serupa kereta tua, yang diwarna berulang demi memanjakan isi kepala dan mata. tak peduli sehebat apa kala usia masih dalam hitungan, waktu selalu dapat melumpuhkan apa-apa yang pernah dibanggakan.

kita ialah kereta tua pada kelas menengah ke bawah, dengan mesin yang tak lagi muda, namun berharap membantu mereka yang menahan rasa lapar demi mencapai tujuan, atau setidaknya menjadi ingatan panjang bagi siapapun yang hanya ingin menukar malam dengan isi celana mereka.

kita kan terus menaruh kepala di depan, melupa bahwa warna hanya mengubah karat menjadi tak terlihat –bukan mengubah mesin yang perlahan merenta sebab putaran jam dan luka yang kerap dibiarkan ada. pada stasiun di mana lampu-lampu telah dimatikan, akhirnya langkah kita terhenti sebab kesedihan-kesedihan yang tak juga menua. kita menjadi penyebab utama amarah mereka –manusia dengan masing-masing keinginan, yang tak peduli kecemasan kerap mengubah diri menjadi hujan tak berkesudahan di dada kita–, sebab air mata kita…

View original post 110 more words

Cerita Cinta Biasa

Racikan Kata

Gif: Tumblr (dreaming-when-lights-are-gone) Gif: Tumblr (dreaming-when-lights-are-gone)

Ini tentang cerita cinta yang biasa saja. Tentang seorang pria yang berjalan di sebuah trotoar basah. Air hujan kala itu menyamarkan genang di matanya.

Tidak terjatuh. Air itu menggantung di pelupuk. Seperti rasa sesal yang tertumpuk. Bintik air mulai membasahi kemeja birunya. Ujung dasinya ia gulung kemudian dimasukkannya ke kantung kemeja, seperti enggan membuka dasi itu sama sekali. Tak ingin kebasahan, tapi melindunginya pun setengah hati.

Ada yang istimewa dengan dasi hitam itu.

Seolah tak takut pada rintik hujan, pria itu sama sekali tak mempercepat langkah kakinya. Tak ada kenaikan volume suara dari pantofel yang beradu dengan trotoar. Sesekali ia menengok ke kiri. Toko dan kedai satu persatu ia lewati.

Kali ini dia meluruskan tangannya ke depan, hanya untuk menyingsingkan lengan kemejanya, lalu membengkokkan sikunya hingga pergelangan tangan mendekati dada. Jarum jam di jam tangan hitamnya menunjukkan pukul 5.47 sore.

Sudah dua blok pria itu berjalan. Bahunya…

View original post 709 more words

Abadi

Iit Sibarani | Akar Pikiran



di penghujung tahun yang lembab, perempuan itu masih menyelimuti diri dengan banyak bunga, mewarnai diri dengan pecahan merah muda; berharap di ujung jalan ia dihadiahi kejutan yang ia rupa-rupa. tak ada hari yang tak ia coba lunakan dengan segala pemakluman, memahami kesalahan dengan pertanda bahwa kita ialah manusia, meski pada nyatanya ia tertusuk pada jahitan luka yang ia coba redakan.

tak sekali ia mengumpulkan hujan di kedua matanya, menaruhnya dalam sebuah wadah di kedua tangannya dan mempersembahkan segala duka kepada Yang Maha Pemilik Rasa menghadap kiblat. ia paham betul, bahwa apa yang ia rasakan, hanyalah sebagian dari caraNya mencintainya. perempuan itu bersumpah atas nyawanya; untuk segala yang ada, sujud syukur tak kan habis ia sembahkan.

bukan luka yang akan membunuh percaya atasNya, tapi dirinya sendirilah yang mampu menjadi musuh terbesarnya; jika saja, ia tak mampu mengendalikan amarah di kepala.

suatu hari yang tak lagi ganjil hadir, Tuhan memberinya…

View original post 197 more words

Taman Bunga yang Patah

Iit Sibarani | Akar Pikiran

Stupid Room - Jahoya Dress

hatinya pernah secantik taman bunga, dipenuhi bunga berwarna merah muda. ia bahkan menaruh isi kepalanya pada akar yang menjalar perut bumi di dalam sana. hingga sebuah pohon tumbuh dengan sempurna, menjadikan apa-apa yang ada di sekelilingnya ikut merendah.

ia pernah secantik bunga, namun tak pernah sesempurna apa yang ada di luar sana.

malam tak pernah datang tiba-tiba, ia tahu kelak akan datang waktunya. bunga-bunganya mulai layu serupa senyuman nenek tua, daunnya pun mulai menjelma burung-burung yang mencari sangkar lainnya. hatinya patah, dan tak lagi seindah taman bunga.

tak sekali ia mencari cara, perempuan itu pun ingin meski hanya sekali merasakan bahagia. perlahan ia mulai bangkit dari gulita di kepalanya, mencoba lebih banyak memfungsikan telinga daripada lidah, dan mengulurkan tangannya untuk membantu siapa saja. baginya, bahagia bisa didapatkan dengan berbagai cara; meski dengan membahagiakan siapa saja yang membutuhkan.

senyumnya perlahan merekah, mengira rasa sakit telah sirna sempurna. tak ada waktu yang…

View original post 79 more words