Keluarga Gardjito :)

Advertisements

Sajak Pukul Tiga

Iit Sibarani | Akar Pikiran

image

Selalu ada satu waktu, di mana dadamu terlalu bergemuruh sedang kau tersesat di kepala. Menutup mata seakan tak ada lagi jalan, mematahkan usia di pekat langkah; sebab hujan di mata tak lagi mengenal napas. Yang hanya kau tahu ialah, kematian hanya sebatas jengkal.

Kau selalu merasa, bahwa duka hanya milikmu seorang, dan tak pernah berhak meski hanya sesesap tawa. Bahagia bagimu telah mati muda di hari yang sudah. Sebab, darah telah terpecah di nama Tuhan yang beda, dan rumah -yang kerap kau rindukan- tak pernah terasa pulang; sebab cinta yang melupa padam telah abadi dalam doa, terabaikan dalam langkah kepergian, dan tak mampu hidup di jiwa selain ia.

Mereka mencerca dan melepas, seakan perjalanan tak berharga dalam ingatan.
Bukan nominal yang kau perlukan, hanya sebatas genggaman untuk sebuah perjuangan; sebab kakimu tak pernah melayu untuk menyatukan apa yang sejatinya retak, namun kau hanya sebatas jelaga di tengah kota. Dekapmu tak…

View original post 104 more words

Kereta Tua

Iit Sibarani | Akar Pikiran

image

kita tak ubahnya serupa kereta tua, yang diwarna berulang demi memanjakan isi kepala dan mata. tak peduli sehebat apa kala usia masih dalam hitungan, waktu selalu dapat melumpuhkan apa-apa yang pernah dibanggakan.

kita ialah kereta tua pada kelas menengah ke bawah, dengan mesin yang tak lagi muda, namun berharap membantu mereka yang menahan rasa lapar demi mencapai tujuan, atau setidaknya menjadi ingatan panjang bagi siapapun yang hanya ingin menukar malam dengan isi celana mereka.

kita kan terus menaruh kepala di depan, melupa bahwa warna hanya mengubah karat menjadi tak terlihat –bukan mengubah mesin yang perlahan merenta sebab putaran jam dan luka yang kerap dibiarkan ada. pada stasiun di mana lampu-lampu telah dimatikan, akhirnya langkah kita terhenti sebab kesedihan-kesedihan yang tak juga menua. kita menjadi penyebab utama amarah mereka –manusia dengan masing-masing keinginan, yang tak peduli kecemasan kerap mengubah diri menjadi hujan tak berkesudahan di dada kita–, sebab air mata kita…

View original post 110 more words

Cerita Cinta Biasa

Racikan Kata

Gif: Tumblr (dreaming-when-lights-are-gone) Gif: Tumblr (dreaming-when-lights-are-gone)

Ini tentang cerita cinta yang biasa saja. Tentang seorang pria yang berjalan di sebuah trotoar basah. Air hujan kala itu menyamarkan genang di matanya.

Tidak terjatuh. Air itu menggantung di pelupuk. Seperti rasa sesal yang tertumpuk. Bintik air mulai membasahi kemeja birunya. Ujung dasinya ia gulung kemudian dimasukkannya ke kantung kemeja, seperti enggan membuka dasi itu sama sekali. Tak ingin kebasahan, tapi melindunginya pun setengah hati.

Ada yang istimewa dengan dasi hitam itu.

Seolah tak takut pada rintik hujan, pria itu sama sekali tak mempercepat langkah kakinya. Tak ada kenaikan volume suara dari pantofel yang beradu dengan trotoar. Sesekali ia menengok ke kiri. Toko dan kedai satu persatu ia lewati.

Kali ini dia meluruskan tangannya ke depan, hanya untuk menyingsingkan lengan kemejanya, lalu membengkokkan sikunya hingga pergelangan tangan mendekati dada. Jarum jam di jam tangan hitamnya menunjukkan pukul 5.47 sore.

Sudah dua blok pria itu berjalan. Bahunya…

View original post 709 more words

Abadi

Iit Sibarani | Akar Pikiran



di penghujung tahun yang lembab, perempuan itu masih menyelimuti diri dengan banyak bunga, mewarnai diri dengan pecahan merah muda; berharap di ujung jalan ia dihadiahi kejutan yang ia rupa-rupa. tak ada hari yang tak ia coba lunakan dengan segala pemakluman, memahami kesalahan dengan pertanda bahwa kita ialah manusia, meski pada nyatanya ia tertusuk pada jahitan luka yang ia coba redakan.

tak sekali ia mengumpulkan hujan di kedua matanya, menaruhnya dalam sebuah wadah di kedua tangannya dan mempersembahkan segala duka kepada Yang Maha Pemilik Rasa menghadap kiblat. ia paham betul, bahwa apa yang ia rasakan, hanyalah sebagian dari caraNya mencintainya. perempuan itu bersumpah atas nyawanya; untuk segala yang ada, sujud syukur tak kan habis ia sembahkan.

bukan luka yang akan membunuh percaya atasNya, tapi dirinya sendirilah yang mampu menjadi musuh terbesarnya; jika saja, ia tak mampu mengendalikan amarah di kepala.

suatu hari yang tak lagi ganjil hadir, Tuhan memberinya…

View original post 197 more words

Taman Bunga yang Patah

Iit Sibarani | Akar Pikiran

Stupid Room - Jahoya Dress

hatinya pernah secantik taman bunga, dipenuhi bunga berwarna merah muda. ia bahkan menaruh isi kepalanya pada akar yang menjalar perut bumi di dalam sana. hingga sebuah pohon tumbuh dengan sempurna, menjadikan apa-apa yang ada di sekelilingnya ikut merendah.

ia pernah secantik bunga, namun tak pernah sesempurna apa yang ada di luar sana.

malam tak pernah datang tiba-tiba, ia tahu kelak akan datang waktunya. bunga-bunganya mulai layu serupa senyuman nenek tua, daunnya pun mulai menjelma burung-burung yang mencari sangkar lainnya. hatinya patah, dan tak lagi seindah taman bunga.

tak sekali ia mencari cara, perempuan itu pun ingin meski hanya sekali merasakan bahagia. perlahan ia mulai bangkit dari gulita di kepalanya, mencoba lebih banyak memfungsikan telinga daripada lidah, dan mengulurkan tangannya untuk membantu siapa saja. baginya, bahagia bisa didapatkan dengan berbagai cara; meski dengan membahagiakan siapa saja yang membutuhkan.

senyumnya perlahan merekah, mengira rasa sakit telah sirna sempurna. tak ada waktu yang…

View original post 79 more words

Rumah yang Kau Tinggalkan

Iit Sibarani | Akar Pikiran

sajak-sajak berlompat-lompat serupa anak domba
menghitung dirinya hingga bulan terlelap
sebelum akhirnya leher tergantung menjadi pertanyaan-pertanyaan
puisiku hanya serupa remang malam di kafe-kafe murahan

kemudian aku kan melukis bintang
serupa binatang-binatang dalam buku gambar
menjadikan mereka kera atau gajah bercula empat di tengah pasar
hingga asing menjadi langkah
hingga asin tak serupa air mata

“tak ada lagi tempat. pergilah ke neraka!” dinding kamarku berseruan
mendapati luka tak henti-hentinya kugoreskan pada lidah yang tertutup rapat
lantaipun menolak gravitasi isi kepala
;yang tercecer sebab keraguan
pada norma rumah yang tak terawat
dadaku menyanyikan lagu kematian

tak ada lagi pena ataupun kuas
sebagai sarana pemuas keinginan yang mati muda
hanya ada aku dan tanda tanya
menikmati napas di dalam keranda

jika kelak kau bertanya,

ke mana perginya detak yang tak sempurna berwarna?

atau di mana makam perasaanku yang terlahir tanpa nama?
aku kan menjawab,

langkahnya telah lama patah, usiapun tak mampu membunuhnya

ia…

View original post 9 more words

Kebebasan Tanpa Rindu yang Semu

Iit Sibarani | Akar Pikiran

jangan berdalih tuk pergi

saat nyatanya hatimu masih tertinggal disana

jangan katakan pisah

saat harapmu pun masih ingin mencoba

tak perlu katakan untuk tak seharusnya

karena saat itu tiba

hati mungkin telah tiada

aku tahu saat kau telah menjauh,

saat genggamanmu tak lagi erat;

saat rasa berubah menjadi logika;

dan saat pelukan tak redakan amarah

pun tahu aku telah menjauh,

saat air mataku tak lagi pekat;

saat pilu tak lagi menjadi luka;

dan saat rinduku tak lagi terarah

jika ingin pergi, pergilah

tak perlu alasan

tuk sekedar menghindari

aku percaya pada kerasnya hati tuk mencintai

bukan lunaknya lidah tuk menyakiti

jika cinta menjalar seperti urat diantara hati dan detak nadi

harusnya hati tak kan berpaling pun menyerah meski raga kian lelah tuk memberi

sila berdusta dengan angkuh

katakanlah muak dan pergi ialah kau ingini

katakanlah

keluarkan ego lalui bibir

tutup telinga atas nurani hendak katakan

bermainlah dengan logika diatas perasaan

carilah…

View original post 21 more words

Kamu

Iit Sibarani | Akar Pikiran

Lebih abu-abu dari langit biru yang kelabu. Kamu.

Lebih semu dari ragu diujung rindu. Kamu.

Lebih tahu dari logika yang menjauh saat cinta menjamu. Kamu.

Lebih merindu dari pelukan seorang ibu. Kamu.

Lebih bisu dari si dungu saat mencium bibir tanpa nafsu. Kamu.

Lebih biru dari palung rindu di samudra biru. Kamu.

Lebih malu saat rindu beradu tuk mencumbu. Kamu.

Terlalu abu-abu tuk mencari tahu.
Terlalu semu, kamu.

View original post