Abadi

Iit Sibarani | Akar Pikiran



di penghujung tahun yang lembab, perempuan itu masih menyelimuti diri dengan banyak bunga, mewarnai diri dengan pecahan merah muda; berharap di ujung jalan ia dihadiahi kejutan yang ia rupa-rupa. tak ada hari yang tak ia coba lunakan dengan segala pemakluman, memahami kesalahan dengan pertanda bahwa kita ialah manusia, meski pada nyatanya ia tertusuk pada jahitan luka yang ia coba redakan.

tak sekali ia mengumpulkan hujan di kedua matanya, menaruhnya dalam sebuah wadah di kedua tangannya dan mempersembahkan segala duka kepada Yang Maha Pemilik Rasa menghadap kiblat. ia paham betul, bahwa apa yang ia rasakan, hanyalah sebagian dari caraNya mencintainya. perempuan itu bersumpah atas nyawanya; untuk segala yang ada, sujud syukur tak kan habis ia sembahkan.

bukan luka yang akan membunuh percaya atasNya, tapi dirinya sendirilah yang mampu menjadi musuh terbesarnya; jika saja, ia tak mampu mengendalikan amarah di kepala.

suatu hari yang tak lagi ganjil hadir, Tuhan memberinya…

View original post 197 more words

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s