Sajak Pukul Tiga

Iit Sibarani | Akar Pikiran

image

Selalu ada satu waktu, di mana dadamu terlalu bergemuruh sedang kau tersesat di kepala. Menutup mata seakan tak ada lagi jalan, mematahkan usia di pekat langkah; sebab hujan di mata tak lagi mengenal napas. Yang hanya kau tahu ialah, kematian hanya sebatas jengkal.

Kau selalu merasa, bahwa duka hanya milikmu seorang, dan tak pernah berhak meski hanya sesesap tawa. Bahagia bagimu telah mati muda di hari yang sudah. Sebab, darah telah terpecah di nama Tuhan yang beda, dan rumah -yang kerap kau rindukan- tak pernah terasa pulang; sebab cinta yang melupa padam telah abadi dalam doa, terabaikan dalam langkah kepergian, dan tak mampu hidup di jiwa selain ia.

Mereka mencerca dan melepas, seakan perjalanan tak berharga dalam ingatan.
Bukan nominal yang kau perlukan, hanya sebatas genggaman untuk sebuah perjuangan; sebab kakimu tak pernah melayu untuk menyatukan apa yang sejatinya retak, namun kau hanya sebatas jelaga di tengah kota. Dekapmu tak…

View original post 104 more words

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s